Friday, October 30, 2009

Mba Munik

ada yang aneh dengan istilah 'pejuang devisa'... seolah pewajaran untuk orang yang mati dalam perjuangan. serasa wajar kalo selama perjuangan, haknya untuk dihargai sebagai manusia dirampas.. seperti dalam perang-perang..apakah mati di tangan majikan salah satu konsekuensi logis dari perjuangan? perjuangan untuk devisa negara. negara yang abai terhadap masyarakatnya..

tidak beda menjadi TKI dengan human trafikking.. yang satu dengan sukarela menyerahkan haknya, yang lainnya tak berdaya waktu dirampas haknya.. sementara negara ini punya pendapatan dari "devisa", mereka-mereka yang haknya sebagai warga negara terabaikan...

beberapa orang lalu teriakkan "ganyang mal4%514!".... tapi lupa, mba munik meninggal bukan (hanya) karena warga negara yang mau kita ganyang, tapi respon negara kita yang lambat. memang mudah membesarkan diri dengan mengkerdilkan bangsa lain..

penyakit jiwa yang tidak sembuh sembuh...

Thursday, October 29, 2009

memilih untuk...

selesai nonton "Lari dari Blora" , saya menangkap kontroversi yang dulu pernah saya hadapi juga. pak lurah di film itu menegaskan untuk tidak membujuk anak-anak samin untuk datang ke sekolah..(lagi tentang Masyarakat Samin, atau masyarakat Kampung Jepang, lihat di sini). bahwa kehidupan mereka sudah damai seperti begitu sejak satu abad yang lalu. tanpa sekolah dll.. jelas sekali, tokoh pak lurah dalam film itu, tidak ingin melakukan perubahan apapun pada masyarakat samin...

dulu, saya tanya sama teman yang sedang jadi tim ahli untuk proyek pembuatan jalan trans papua: kalo hutannya dibuka dan dibuat jalan, biasanya ada penebangan di hutan yang dilewati jalan tersebut. karena biaya orang untuk menebang dan mengangkut kayu jadi jauh lebih murah. dan lagi, siapa butuh jalan bagus? orang papua lebih banyak jalan kaki ketimbang naik mobil...

menanggapi itu, teman saya bilang: "saya tidak suka orang yang ingin memusiumkan orang lain"... hehe.. mungkin di proses amdal pembuatan jalan, dia sudah menghadapi kontroversi serupa, jadi agak emosional begitu. ya,..memang tidak baik memusiumkan orang lain. mereka toh bukan fosil.. meskipun kebudayaan dan cara hidup mereka di Papua, konon tidak banyak berubah dalam kurun 3000 tahun terakhir.

tapi apa jalan tengah antara keduanya..? tentu saja memberikan pilihan ini pada mereka. harusnya bukan kita yang memutuskan. bukan pemerintahan yang tidak pernah mengenal mereka, yang bisa memutuskan apa yang terbaik untuk mereka. bukan orang-orang Bapenas dan Departemen PU yang duduk di ruang AC yang memutuskan apa yang terbaik untuk orang-orang yang tinggal di pedalaman hutan Papua. pilihannya dulu yang mesti dibuka selebar-lebarnya untuk mereka, dengan segala konsekuensi yang mengikutinya, tentu..

sampai titik ini, saya lihat pendidikan jadi penting. pendidikan bukan yang seperti kita pahami di sekolah. ini pendidikan yang menguatkan mereka. pendidikan di sekolah-sekolah kita banyak yang justru melemahkan. mendidik untuk bisa berpikir kritis.. bukan menerima dengan giat..

lalu biarkan mereka memilih,.. yang penting adalah segala pilihan itu disadari, konsekuensi dan manfaatnya. punya jalan dan mobil juga bukan tidak berkonsekuensi buruk..tapi juga ada manfaatnya. punya hutan seperti sekarang, ada baik dan buruknya juga. tinggal pilih, mana yang mau diubah, seberapa besar. harusnya orang-orang pintar di Bapenas dan Departemen PU, tuan-tuan yang sehari-hari duduk di ruang AC itu, tinggal melaksanakan permintaan mereka yang berkoteka di hutan Papua itu. bukan sebaliknya.

yang terjadi malah sebaliknya: membuka jalan untuk membuka akses pendidikan. jadi diubah dulu, baru tanya penduduknya, mau diubah atau tidak... hehe..

Orang-orang di Dusun Jepang, dan Suku Badui sepertinya cukup beruntung. mereka seolah bisa memilih dan bertahan di derap laju pembangunan. tentu dengan memilih apa yang baik dan tidak baik menurut mereka... mungkin daerah mereka tidak punya sumberdaya alam melimpah seperti Papua, ya... hehehe

Tuesday, October 27, 2009

percaya pada teknologi

apakah teknologi akan menyelesaikan semuanya?

seorang teman percaya betul, bahwa ini akan terjadi. teknologi akan menyelesaikan semuanya. teknologi akan mengurangi polusi. teknologi akan menghilangkan kelaparan. teknologi akan membuat kehidupan manusia terus berlanjut. teknologi akan membuat masa depan manusia jadi lebih baik dari saat ini.

benarkah?

di buku Limits To Growth, pandangan ini dikoreksi. sebelum cerita lebih jauh, buku ini adalah salah satu buku yang ditentang oleh sebagian besar dari kita. bagaimana mungkin, keinginan kita untuk bertumbuh, untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya, dibatasi? kita simpan saja dulu diskusi soal ini, nanti.

ada beberapa hal yang membuat bahwa harapan ini beresiko jadi harapan kosong. yang pertama, di buku Radical Simplicity, Jim Merkel bilang bahwa teknologi dikembangkan dari masalah yang dihadapi manusia, atau untuk menyelesaikan masalah yang ditimbulkan oleh teknologi sebelumnya. sepanjang sejarah perkembangan teknologi, tidak ada teknologi yang bisa menyelesaikan masalah tanpa masalah. jadi berharap pada teknologi untuk menyelesaikan masalah tanpa masalah, itu boleh jadi harapan kosong. termasuk menyelesaikan masalah dunia, agar manusia bisa hidup berkelanjutan.

yang kedua, teknologi itu hanya alat. instrumen antara yang digunakan untuk mencapai maksud tertentu. jadi teknologi memang di desain sesuai dengan kebutuhan masyarakat. menyelesaikan masalah keberlanjutan dunia dengan berharap pada teknologi, tidak akan mungkin terjadi, selama tujuan implisit masyarakat bertentangan dengan prinsip-prinsip keberlanjutan.

trus kalaupun, asumsinya, masyarakat kita sadar karena sudah mulai merasakan dampak, dan mulai mendesain teknologi yang dirancang untuk manusia agar hidup berkelanjutan, perkiraannya akan ada jeda waktu teknologi itu diadopsi. misalnya, di tahun 1974, para peneliti sudah mengingatkan bahwa CFC bisa membuat ozon kita berlubang. tahun 1984, peneliti lain mengkonfirmasi penurunan 40% di lapisan ozon. butuh sekitar 14 tahun untuk negara-negara industri penghasil CFC untuk mengurangi pemakaian CFC.. diiringi dengan penyangkalan yang menyebutkan bahwa data yang diperoleh dari penelitian itu masih spekulatif. lalu dikembangkan teknologi gas pendingin dan tekanan yang tidak menggunakan CFC.. oke, berapa lama sampai teknologi ini digunakan? mungkin lebih dari 20 tahun.

yang terakhir, teknologi juga terkait erat dengan sistem ekonomi dan politik. investasi penelitian untuk mengembangkan teknologi baru membutuhkan biaya. tapi di sisi lain, biaya untuk investasi hanya akan disalurkan pada pilihan-pilihan yang akan diadopsi pasar. mobil bertenaga surya? bagus dan perlu banyak penelitian untuk pengembangan lebih lanjut. tapi hal ini sulit dilakukan selama pasar lebih memilih mobil berbahan bakar bensin. akhirnya yang dikembangkan adalah SUV. tapi, di satu sisi, ketika batas bahan bakar bensin hampir dicapai, dimana minyak bumi menjadi begitu mahal karena diambang batas jumlahnya, biaya penelitian untuk pengembangan lebih lanjut, dengan sendirinya menjadi sesuatu yang mahal.

kalau minyak bumi bisa memicu peperangan yang terus menghangatkan timur tengah, cadangan minyak yang tinggal sedikit pun akan jadi rebutan dan upaya-upaya politis mungkin akan mendorong pengembangan sumber energi alternatif yang bisa menyamai minyak bumi menjadi sulit dilakukan.

yang jadi masalah adalah waktu. kita mungkin tidak punya cukup banyak waktu. kita mungkin sudah melewati batas optimum daya dukung bumi. meskipun tidak ada yang benar-benar tau berapa batas daya dukung bumi, tapi kita sudah mulai merasakan akibatnya. dan teknologi sebenarnya tidak meningkatkan daya dukung bumi, dengan peningkatan konsumsi materi dan jumlah manusia yang terus bertambah, yang dilakukan oleh teknologi adalah menunda dampa yang akan kita rasakan ketika kita melewati batas daya dukung. pemanasan, perubahan iklim, lebih banyak bencana.. 20 tahun seperti pada kasus CFC terlalu lama, kita mungkin akan merasakan dampak yang lebih hebat lagi dari sekedar pemanasan dan bencana.

jadi, masih percaya sama teknologi?

Tuesday, October 13, 2009

(would you be) spirits in the material world (?)

Spirits In The Material World
The Police

There is no political solution
To our troubled evolution
Have no faith in constitution
There is no bloody revolution

We are spirits in the material world

Our so-called leaders speak
With words they try to jail you
They subjugate the meek
But it's the rhetoric of failure

We are spirits in the material world

Where does the answer lie?
Living from day to day
If it's something we can't buy
There must be another way

We are spirits in the material world


bagi yang percaya bahwa banyak masalah di dunia kita bisa diselesaikan oleh institusi pemerintahan, siap-siap untuk kecewa. beberapa hari ini saya coba mbaca beberapa dokumen yang disiapkan pemerintah untuk pembangunan di sebuah daerah di Indonesia.

masalah yang menggerakkan ini adalah kebutuhan manusia terhadap materi.. semua gerak pembangunan dilakukan untuk meningkatkan konsumsi materi. kita merasa lebih baik ketika kita mengkonsumsi lebih banyak materi... untuk itu, yang dilakukan adalah mempersiapkan semua yang kita butuhkan untuk menjadi konsumen yang baik. sarana kesehatan yang bermutu, lapangan kerja, pendidikan,.. semuanya mempersiapkan kita menjadi konsumen yang sehat, pintar dan bisa bekerja di perusahaan dengan gaji gede, dengan harapan bisa membelanjakan lebih besar dari yang kita dapatkan...

di sisi lain, dunia kita yang bulat dengan materi terbatas, tidak bisa diperluas dan diperkaya tambahan materi lain...